Silahkan klik link dibawah ini untuk Game/ Kuis
KuisAlgoritma dan Pemrograman (Pre Test)
Setelah mengisi Post test siswa belajar Algoritma dan Pemrograman
dengan menggunakan Aplikasi Silent Teacher
link nya klik di sini Aplikasi Silent Teacher
Silahkan klik link dibawah ini untuk Game/ Kuis
KuisAlgoritma dan Pemrograman (Pre Test)
Setelah mengisi Post test siswa belajar Algoritma dan Pemrograman
dengan menggunakan Aplikasi Silent Teacher
link nya klik di sini Aplikasi Silent Teacher
Pengembangan minat dan bakat murid salah satunya dengan kegiatan ekstrakurikuler komputer. dan robotik
Kegiatan ini diadakan setiap hari jumat, dimulai pada pukul 14.00-15.30. Sebagai pembina eksktrakulikuler komputer saya mengajarkan tentang perangkat keras (Hadrware) dan perangkat Lunak (Software).
Adapun materi perangkat keras tentang merakit komputer dan jaringan internet. Tujuan nya diharapkan murid dapat mengembangkan minat dan bakat nya terhadap pemahaman merakit komputer dan memahami trouble shooting tentang komputer. Sedangkan materi untuk jaringan komputer yaitu tentang pemahaman IP address, perangkat keras jaringan, serta pemahaman tentang pembuatan kabel jaringan (LAN). Selain itu murid akan diajarkan tentang setting router atau wifi. Sehingga murid diharapkan mampu menangangi permasalahan jaringan internet.
Selain ekstrakurikuler tentang komputer ada juga program ekstrakurikuler robotik. Materi yang akan diajarkan tentang cara merakit robot MIND STROM dan siswa mampu membuat program dan mengemembangkan program mind strom tersebut.
Bapak kihajar Dewantara telah memberikan inspirasi kepada bangsa Indonesia khusus nya saya pribadi tentang penerapan proses pendidikan yang sebenarnya. Pesan yang ingin disampaikan Bapak KHD salah satu nya pembelajaran yang berpihak kepada murid dalam segala hal. Dengan semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani menjadikan guru sebagai among untuk murid. Proses belajar yang berpihak kepada murid. Murid merdeka dalam belajar. Dengan makna proses belajar yang didapati murid khususnya selama disekolah murid belajar sesuai dengan minat bakat yang ada, murid belajar dengan nyaman dan aman untuk dapat mengeksplorasi diri nya semaksimal mungkin tidak dalam kondisi penuh ketakutan ataupun tekanan. Harapan nya adalah kelak murid akan menjadi generasi emas. Seperti generasi yang dicita-cita Bangsa Indonesia.
Guru dalam merapkan perannya sebagai among, maka seorang guru harus terlebih dahulu memahami filosofi Bapak Pendiri Pendidikan Indonesia Kihajar Dewantara, dan mempraktekan nya dalam proses belajar mengajar baik di lingkungan formal ataupun informal. Dalam mempraktekan sistem among, guru juga harus mempunyai ilmu dan pemahaman cara menerapkan nya. ada beberapa cara yang bisa diterapkan salah satu nya adalah dengan berperan sebagai coach bagi murid, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional.
Guru harus menerapkan peran sebagai coach dan tentunya murid sebagai coachee. Coach harus mampu mengeluarkan potensi yang ada pada diri seorang murid. Sehingga murid menemukan potensi diri yang terpendam, potensi ini akan membuat murid mampu menghadapi tantangan dan masalah yang dia hadapi dan menjadi percaya diri untuk menatap masa depan yang cerah. Ketika permasalahn diri murid dapat dia selesai sendiri, maka masalah tersebut tidak akan mempengaruhi dalam proses belajar murid dalam menuntut ilmu.
Materi coaching, Pembelajaran berdiferensiasi dan Pembelajaran sosial emosional mempunyai keterkaitan satu sama lain. Ketiga materi pembalajaran ini semua nya berpusat kepada murid untuk menjadikan murid merdeka dalam belajar. Sesuai dengan filosofi bapak KHD. Ketika guru menjadi coach untuk murid maka guru akan mandapatkan data tentang kebutuhan belajar murid dan tentang kehidupan sosial dan emosional murid. Dengan adanya data data tersebut maka guru dapat membuat pembelajaran yang berpusat kepada murid yaitu akan mampu menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional dengan tepat.
Pembelajaran berdiferensiasi untuk menyiapkan kebutuhan belajar anak, lebih cenderung untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan murid. Dalam pembelajaan ini guru dapat membuat 3 kategori diferensiasi, yaitu diferensiasi konten, proses dan produk. Dalam diferensiasi ini harus melihat kebutuhan belajar murid. Seperti kesiapan belajar murid, minat belajar murid dan gaya belajar murid. Pada titik inilah guru harus jeli dan mampu membuat pilihan diferensiasi dalam proses belajar. Sebagai contoh untuk melihat kesiapan belajar murid berupa kemampuan pemahaman awal murid dalam menguasai konsep materi, guru harus melakukan assemen berupa tes baik lisan ataupun tertulis. Dari tes ini maka akan dapat data tentang kamampuan awal belajar setiap murid. Kemudian untuk melihat minat belajar murid guru dapat bertanya secara langsung kepada murid ataupun melihat secara nyata ketika disekolah. Sedangkan untuk melihat gaya belajar murid dapat menggunakan test ataupun dapat dilihat secara langsung ketika proses belajar dikelas. Pembelajaran berdiferensiasi ini lebih fokus kepada pengembangan pengetahuan dan keterampilan murid terhadap materi pelajaran.
Pembelajaran sosial emosional untuk menyiapkan psikologis murid sebelum proses belajar dan ini bertujuan untuk mengembangkan karakter murid. Murid tidak hanya harus memahamai ilmu pengetahuan ataupun ketrampilan namun murid juga harus diajarkan kemampuan dan mengembangkan jiwa sosial dan emosional nya. Pengetahuan dan ketrampilan tidak akan bermanfaat jika tidak dilandasi dengan kemampuan bersosial dan kemampuan mengendalikan emosional. Kemampuan sosial emosional ini perlu guru terapkan dalam proses pembelajaran dikelas. Kemampuan sosial murid akan menjadikan murid mempunyai nilai nilai sosial yang tinggi dan mampu bersosialisasi kepada semua orang. Karena pada hakikatnya manusia adalah mahkluk sosial. Sedangkan kemampuan emosional untuk menjadikan seorang murid mempunyai kemampuan mengedalikan emosinya. Hal ini sangat penting diterapkan dalam kehidupan sosial.
Materi coaching, pembelajaran berdieferensiasi dan pembelajaran sosial emosional semua nya merupakan proses pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Mempunyai keterkaitan satu sama lain. Jika ini diterapkan maka akan mengembangkan dan mampu mengeluarkan potensi, minat, bakat yang ada pada peserta didik. Potensi murid akan semakin berkembang sehingga ia menjadi murid yang merdeka. Merdeka dalam belajar dan menentukan arah hidupnya kelak. Ibarat air, ia akan mengalir lancar tanpa sumbatan. Guru harus mampu menjadi coach yang handal dan hebat yang menyingkirkan sumbatan-sumbatan itu. Semua ini sesuai dengan ajaran filosopy bapak Pendidikan Indonesia Kihajar Dewantara.
Link Video pembelajaran berdiferensiasi
https://drive.google.com/file/d/1l3_IoxaBQC2Vts0psXjR-OhJl2Mrvw-M/view?usp=sharing
(Ulasan dari Henri Kurniawan-CGP Angkatan 4)
Nama CGP : Henri Kurniawan
Praktik menjadi pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran
Provinsi Kepulauan Riau
Peristiwa (facts)
Latar belakang
Seorang guru merupakan pemimpin dalam pembelajaran, khusus nya dalam kegiatan proses belajar mengajar dikelas, dan tentunya terlibat langsung dengan murid. Sebagai pemimpin pembelajar dikelas yang dipimpin adalah murid. Tangung jawab seorang pemimpin di kelas sudah pasti sangat berat. Banyak keputusan-keputusan penting yang diambil oleh seorang pemimpin. Apalagi hal ini berhubungan dengan perkembangan peserta didik. Jika salah dalam membuat keputusan tentu akan berdampak buruk bagi perkembangan masa depan murid. Akan banyak dilema yang muncul dari setiap keputusan yang diambil. Biasanya sering terjadi pertentangan antara rasa keadailan dengan rasa kasihan. Oleh karena itu sebagai pemimpin pembelajar seorang guru harus bisa membuat keputusan yang bijaksana dan berpihak kepada peserta didik sesuai dengan filosopy bapak Ki Hajar Dewantara.
Pada kesempatan ini saya sebagai guru dan sebagai pemimpin dalam pembelajaran banyak belajar bagaimana mengambil keputusan yang bijaksana. Pada kesempatan ini saya akan belajar mempraktekkan cara pengambilan keputusan. Mudah-mudahan keputusan ini tepat dan benar. Adapun kasus yang terjadi sebagai berikut. Saya mengajar sebagai guru komputer di kelas IX, pada saat saya melakukan rekap nilai untuk pengolahan nilai ada salah satu murid yang nilai nya untuk mata pelajaran saya sebagian besar nilai nya tidak ada. Baik itu nilai harian maupun nilai tugas. Wali kelas murid tersebut meminta kepada saya untuk memberikan nilai untuk diolah menjadi nilai raport. dan menjelaskan penyebab murid tersebut tidak mengumpulkan tugas karena murid tersebut kondisi nya sakit parah dan butuh waktu lama untuk penyembuhan, tentunya juga tidak bisa masuk sekolah dan belajar seperti murid lain nya. Memang murid tersebut mempunyai semangat yang kuat untuk sekolah. Namun kondisi penyakitnya tidak memungkinkan untuk sekolah, dan butuh fokus dalam penyembuhan, sehingga tugas yang diberikan juga tidak bisa dikerjakan secara maksimal. Wali kelas meminta kepada saya untuk memberikan nilai yang maksimal dengan alasan agar murid tersebut terus semangat belajar dan tidak membuat penyakitnya kambuh, Murid tersebut menderita penyakit kanker sehinga jika dia sedih akan menyebabkan semangat hidupnya menurun.Wali kelas berharap saya tidak memberikan nilai yang pas-pasan atau hanya nilai ketuntasan minimal saja. Hal ini menjadi dilema bagi saya karena akan bertentangan dengan peraturan sekolah, tentunya peraturan yang berhubungan dengan pengolahan nilai. Dimana pengolahan nilai raport tentunya harus melihat dari nilai-nilai yang lain. Seperti nilai harian, nilai tugas, nilai kehadiran, nilai ujian pengetahuan dan ujian praktikum. Nilai-nilai inilah yang hanya sebagian kecil saja yang dimiliki oleh murid tersebut. Jika tidak ada nilai tersebut maka murid itu kemungkinan tidak dapat melanjutkan pada pembelajaran untuk semester berikut nya. Karena pada saat itu murid tersebut berada di semester 1 kelas IX.
Berdasarkan permasalahan diatas, menjadi dilema sendiri bagi diri saya. Di satu sisi jika saya berikan nilai tentu akan tidak adil bagi murid lain. Karena murid lain mempunyai nilai-nilai yang lengkap, dan sudah bersusah payah untuk mendapatkan nilai tersebut. Jika murid tersebut tidak diberikan nilai akan menyebabkan murid tersebut tinggal kelas dan tentunya akan membuat dia merasa sedih. dan pasti akan berimbas pada kesehatan nya. Dalam menyelesaikan permasalahan ini saya harus memutuskan hal yang bijaksana sehingga tidak merugikan murid yang sakit serta tidak merugikan murid-murid yang lain.
Sebelum memutuskan permasalahan yang ada tersebut, saya harus terlebih dahulu melihat kenyataan yang sebenarnya. Saya melakukan diskusi dengan orang tua murid, dengan murid tersebut, wali kelas serta kepada kepala sekolah. Saya ingin mengetahui hal yang sebenarnya. Ternyata murid tersebut benar adanya tidak bisa aktif sekolah karena harus berobat karena penyakit kanker yang dia derita. Tentu tidak bijaksana jika saya menambah beban bagi murid tersebut, Jika salah dalam mengambil keputusan. Hasil analisa permasalahan yang sudah saya lakukan tersebut merupakan bahan kajian bagi saya untuk membuat sebuah keputusan. Keputusan yang diambil menurut pandangan saya adalah merupakan dilema etika (benar lawan benar) bukan bujukan moral (benar lawan salah). Yaitu dilema yang terjadi pertentangan antara rasa keadilan vs rasa kasihan.
Dalam mengambil dan menguji sebuah keputusan saya melakukan cara dengan menggunakan 9 langkah, melihat 4 paradigma dan 3 prinsip. Pada 9 langkah tersebut saya akan melihat apakah permasalahan tersebut diatas merupakan dilema etika ataukah bujukan moral. Berikut ini 9 langkah pengujian yang berguna untuk menentukan apakah permasalah tersebut merupakan dilema etika atau bujukan moral.
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
Pada kegiatan ini saya melakukan identifikasi masalah. Hasil identifikasi masalah tersebut ada nilai-nilai yang saling bertentangan yaitu nilai keadilan dan nilai rasa kasihan.
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
Yang terlibat pada kasus ini tentunya saya sendiri sebagai guru mata pelajaran yang diminta untuk memberikan nilai kepada murid oleh wali kelas, kemudian yang terlibat juga adalah wali kelas karena wali kelas tersebut meminta nilai kepada saya, dan meminta nilai paling tidak tuntas. Secara tidak langsung yang terlibat juga adalah orang tua murid serta murid itu sendiri.
3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
Pada kegiatan ini saya melakukan pengumpulan fakta-fakta yang sebenarnya secara lengkap dan detail. Dengan melakukan pembicaraan dengan wali kelas secara langsung, kemudian juga pembicaraan dengan guru-guru lain, serta dengan orang tua murid serta dengan murid itu sendiri. Fakta ini penting sebelum mengambil keputusan, agar sebuah keputusan berpihak kepada peserta didik, tidak merugikan peserta didik. serta tidak merugikan orang lain.
4. Pengujian benar atau salah
- Uji Legal
Pada proses ini untuk mengetahui apakah keputusan yang diambil ada aspek pelanggaran hukum. Hasil analisis saya keputusan yang akan diambil tidak ada pelanggaran hukum yang terjadi.
- Uji Regulasi/Standar Profesional.
Pada uji regulasi ini juga tidak ada pelanggaran kode etik sebagai guru akibat dari keputusan yang dibuat.
- Uji Intuisi
Pada proses uji Intuisi ini untuk melihat tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang saya yakini, tentunya nilai-nilai yang bersifat universal. Maka hasil analisa saya tidak ada nilai-nilai yang bertentangan atau berlawanan dengan nilai yang saya yakini.
- Uji Publikasi
Pada uji publikasi ini keputusan yang saya buat tentunya tidak akan bermasalah jika diketahui oleh publik. Hal ini tidak akan berdampak kepada diri saya sebagai pembuat keputusan.
- Uji Panutan/Idola
Pada proses uji panutan berarti keputusan yang saya ambil tidak akan jauh bertentangan dengan soerang yang menjadi panutan atau idola saya.
Keputusan yang saya ambil lolos dari ke 5 uji tersebut. berarti keputusan tersebut benar sebagai permasalahan dilema etika (benar lawan benar) bukan bujukan moral (Benar lawan salah)
5. . Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
Paradigma yang terjadi di situasi yang sedang saya hadapi ini adalah - Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Sehingga keputusan yag saya ambil benar merupakan dilema etika. Situasi yang saya hadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.
6. Melakukan Prinsip Resolusi
Dari 3 prinsip penyelesaian dilema dari 3 prinsip maka prinsip dibawah ini, Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Dari ke 3 prinsip tersebut maka prinsip yang saya gunakan adalah prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).
7. Investigasi Opsi Trilema
Ada lebih dari 2 opsi keputusan yang saya pertimbangkan. Keputusan tersebut 1. Tidak memberikan nilai kepada murid tersebut dan lebih mementingkan peraturan yang ada yaitu peraturan sekolah tentang proses penilaian. Sehingga pada hal ini keputusan yang diambil adalah keputusan yang berpihak kepada rasa keadilan untuk semua murid. Namun akan merugikan murid yang bermasalah tersebut. Keputusan 2 yaitu memberikan nilai kepada murid yang bermasalah tanpa memperdulikan rasa keadilan bagi murid lain. dan Keputusan yang 3 adalah saya mencari keputusan yang tidak begitu merugikan rasa keadilan bagi murid lain dan juga mempertimbangkan rasa kasihan bagi murid yang bermasalah tersebut. Keputusan yang saya ambil yaitu opsi ke tiga. Dengan cara memberikan nilai kepada murid yang sedang bermasalah namun tidak merugikan rasa keadilan bagi murid lain. Keputusan nya saya memberikan nilai kepada murida yang bermasalah namun dengan nilai hanya sebesar nilai ketuntasan belajar minimun (KKM), dan bersyarat yaitu siswa tersebut tetap diberikan tugas dan ujian. Namun bobot ujian tugas tersebut dan ujian tersebut tidak sebesar bobot murid murid lain. dengan mempertimbangkan rasa kasihan karena murid tersebut dalam kondisi sakit yang cukup berat. Dan juga diberikan waktu yang fleksibel dalam menyelesaikan tugas dan ujian yang diberikan. Sehingga pada akhirnya murid tersebut tetap dapat mengikuti pelajaran pada semester berikutnya.
8. Buat Keputusan
Dari beberapa opsi yang ada akhirnya saya membuat sebuah keputusan dengan opsi yang ke 3. Yaitu keputusan yang tidak merugikan rasa keadilan bagi murid-murid lain. dan juga tidak merugikan bagi murid yang sedang sakit tersebut. Yaitu sebuah keputusan yang memberikan nilai kepada murid yang sakit tersebut, namun dengan persayaratan tertentu yaitu murid tersebut tetap mengerjakan tugas dan ujian susulan, serta diberikan keringanan dalam bobot tugas atau soal ujian. dan juga diberikan keringanan waktu pengerjaan nya. Artinya diberikan waktu lebih panjang. Murid tersebut boleh mengerjakan tugas ketika kondisi kesehatannya mulai pulih.
9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan
Keputusan yang sudah saya ambil akan saya analisa terus dan saya lakukan refleksi agar keputusan ini dapat menjadi acuan bagi keputusan-keputusan pada permasalah lain.
Langkah-langkah diatas merupakn panduan dalam mengambil sebuah keputusan dan juga panduan untuk menguji sebuah keputusan. Sehingga dengan melalui rangkaian tahapan yang ada maka keputusan yang saya ambil tidak akan merugikan peserta didik manapun. Sehingga pada akhirnya semua keputusan harus berpihak kepada peserta didik.
Silahkan klik link dibawah ini untuk Game/ Kuis Kuis Algoritma dan Pemrograman (Pre Test) Setelah mengisi Post test siswa belajar Algoritm...