Rabu, 27 April 2022

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Koneksi Antar Materi 

Oleh
 Henri Kurniawan- CGP Angkatan 4

Bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara dengan filosopi Pratap Triloka. Konsep ini diterapakan oleh bapak KHD pada sekolah taman siswa dan sampai saat ini diterakan pada pendidikan di Indonesia. Terdapat tiga unsur penting dan terkenal dalam Patrap Triloka, yaitu: (1) Ing ngarsa sung tulada (ꦲꦶꦁꦔꦂꦱꦱꦸꦁꦠꦸꦭꦝ, "yang di depan memberi teladan"), (2) Ing madya mangun karsa (ꦲꦶꦁꦩꦢꦾꦩꦔꦸꦤ꧀ꦏꦂꦱ, "yang di tengah membangun kemauan"), (3) Tut wuri handayani (ꦠꦸꦠ꧀ꦮꦸꦫꦶꦲꦤ꧀ꦢꦪꦤꦶ" dari belakang mendukung"). Pandangan ini menjadi acuan bagi seorang pemimpin pembelajaran dalam setiap mengambil keputusan yang berhubungan dengan murid. Setiap keputusan tersebut harus berpihak kepada murid. Setiap keputusan yang dimabil  tidak merugikan murid, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Seorang pemimpin pembelajar harus memahami makna 3 unsur yang ada dalam pratap triloka tersebut. Dengan memahami makna yang ada tersebut tentunya setiap keputusan yang diambil akan menjadi bijaksana dan tidak merugikan murid.

Nilai nilai yang ada pada unsur Pratap Triloka serta nilai nilai kebaikan yang ada pada diri kita tentunya akan sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan. Ketika dalam diri kita banyak memahami dan selalu menerapkan nilai nilai kebajikan universal dalam kehidupan sehari-hari, tentunya nilai-nilai ini akan membuat keputusan yang diambil sesuai dengan nilai kebajikan yang ada pada diri kita. Oleh karena itu seorang pemimpin pembelajar dalam mengambil keputusan haruslah ada dalam dirinya  tertanam nilai-nilai kebajikan. Sehingga keputusan yang diambil akan bijaksana tidak merugikan murid maupun warga yang ada di lingkungan sekolah, maupun warga ditempat tinggal kita. Nilai-nilai tersebut tidak hanya sebagai teori saja, namun harus benar-benar tertanam dalam diri seorang pemimpin pembelajar. Nilai kebajikan universal tidak bisa didapatkan hanya belajar dari buku namun harus sudah dipraktekan secara terus menerus dalam kehidupan, sehingga menjadi karakter seorang pemimpin pembelajar. Karakter yang baik akan melahirkan keputusan yang baik, begitu juga sebaliknya karakater yang tidak baik akan melahirkan keputusan yang tidak baik juga.

Materi tentang pengambilan keputusan sudah saya dapatkan dari membaca materi di lms baik dalam bentuk teks, video maupun pembelajaran langsung dari fasilitator serta instruktur, bahkan dalam kegiatan forum diskusi tentang materi tersebut. Secara teori semua sudah saya pahami dengan baik, mulai dari 4 paradigma, 3 prinsip serta 9 cara pengujian sebuah keputusan. Semua sudah saya pelajari dan saya praktekkan dalam mengambil sebuah keputusan dari permasalahan yang ada. Tentunya semua ini harus berpihak kepada murid harus berpengaruh positif untuk kepentingan murid baik jangka pendek maupun jangka panjang. Jika mengikuti tata cara pengambilan keputusan yang ada tentunya keputusan yang diambil sudah sangat efektif. Namun belum efesien, karena banyak tahapan  yang harus dilalui sebelum sebuah keputusan tersebut dibuat. Padahal ada keputusan yang harus diambil secara cepat, tepat dan tentunya benar. Jika mengikuti tahapan tersebut tentunya akan sulit dilakukan pengambilan keputusan yang cepat. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang pemimpin pembelajar dalam mengambil keputusan selalu mempraktekan teori yang ada. Teori ini dapat dipraktekan jika seseorang selalu menemukan permasalahan, dan tidak menghindar dari masalah yang ada. Hal ini akan mengajarkan seorang mampu membuat keputusan yang cepat, tepat dan benar. 

Seorang guru selain memahami tentang konsep pengambilan keputusan, tentunya harus mempunyai sikap sosial dan emosional yang baik serta tertanam pada dirinya. Sikap sosial dan emosional ini akan sangat berpengaruh terhadap keputusan yang diambil. Oleh karena itu seorang guru harus mampu mengendalikan emosional yang ada pada dirinya serta mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Tanpa hal ini mustahil keputusan yang diambil akan menjadi baik dan bermanfaat bagi murid serta lingkungan sekolah. Sikap sosial emosional ini tidak dapat dipelajari hanya dengan membaca buku namun harus diterapkan dalam diri seorang guru. Penerapan ini harus dlakukan terus menerus dalam kehidupan seorang guru. Hal ini lah yang tidak mudah dilakukan. sehingga banyak guru gagal menjadi pemimpin pembelajar. yaitu Gagal dalam membuat keputusan yang cepat, tepat dan benar. Sebelum mengambil keputusan guru harus mampu mengelola emosi dengan baik serta harus mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Sehingga keputusan yang diambil akan menjadi bijaksana dan tidak merugikan murid serta warga di lingkungan sekolah.

Seorang pendidik dalam kegiatan proses belajar mengajar tentu akan bersentuhan dengan masalah moral atau etika. Khusus nya dalam pengambilan sebuah keputusan. Sebuah keputusan biasanya akan berhubungan dengan dilema etika atau bujukan moral. Dilema etika merupakan pertentangan dari beberapa opsi penyelesaian masalah, dan opsi-opsi ini semua nya bernilai benar namun opsi ini saling bertentangan satu sama lain. Seperti beberapa contoh kasus yang disajikan di LMS. Seorang pendidik harus memutuskan satu opsi yang paling tepat dari beberapa opsi yang ada. Apapun pilihan keputusan seorang pendidik tidak akan salah.  Karena dalam dilema etika semua opsi bernilai benar. Biasanya seorang pendidik akan lebih bijaksana dalam menentukan keputusan nya. Lain hal nya dengan bujukan moral, bujukan moral ini juga akan menjadi dilema etika bagi seorang pendidik. Karena pada bujukan moral opsi yang ada biasanya bernilai benar dan salah arti nya ada opsi yang benar dan ada opsi yang melawan hukum yang berlaku. Seorang pendidik harus memilih opsi yang benar walaupun tantangan nya berat karena selalu dibujuk dan ditekan untuk berbuat salah. Jika memilih opsi yang salah maka akan mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri dan dapat di jerat dengan hukum. Karena opsi yang salah tersebut sudah pasti bertentangan dengan aturan hukum. Oleh karena itu seorang pemimpin pembelajar harus berani mengambil opsi yang benar. Opsi yang benar ini akan sangat sesuai dengan nilai-nilai kebajikan yang dianut oleh seorang pendidik bahkan semua orang.

  • Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Sebuah keputusan yang tepat tentunya akan sangat berdampak kepada tercipta nya lingkungan yang positif, kondusif dan nyaman. Karena keputusan yang tepat tidak akan merugikan orang banyak, bernilai adil dan bijaksana. Keputusan seperti ini akan diterima oleh semua warga sekolah. Pada prinsif nya semua orang ingin mendapatkan keadilan dari setiap keputusan yang dibuat. Oleh karena itu tentulah keputusan yang tepat akan berpengaruh positif terhadap lingkungan. Inti dari keputusan yang tepat adalah keputusan tersebut harus benar serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan universal.

Dalam membuat keputusan yang bertentangan dengan dilema etika tentulah keputusan ini akan menjadi beban tersendiri bagi seorang pendidik karena hal ini biasa nya bertentangan dengan  nilai keadilan universal. Disisi lain keputusan ini berlawanan dengan nilai kasihan. Oleh karena itu sebuah keputusan harus ada pilihan lain sehingga keputusan tersebut tidak terlalu bertentangan dengan nilai keadlian yang dianut. Misalnya ketika melihat anak mencuri atau merokok jika ketahuan maka akan dikeluarkan dari sekolah, namun kadang ada nilai kasihan jika anak tersebut dikeluarkan dari sekolah. Oleh karena itu seorang pendidik haruslah memberikan kesempatan kepada murid untuk memperbaiki tingkah laku nya. Tidak boleh langsung melapor kepada pimpinan yang akan mengakibatkan dikeluarkannya murid tersebut dari sekolah. Seorang pendidik juga harus terus membantu murid tersebut untuk memperbaiki tingkah lakunya. Namun jika tingkah laku murid tersebut tidak berubah juga walaupun berbagai cara sudah dilakukan, maka sudah sepantasnya hal ini dilaporkan kepada pimpinan untuk diberikan keputusan yang lain. Seperti dikeluarkan dari sekolah dan dicari sekolah yang tepat sesuai keinginan murid tersebut seperti sekolah yang berbasis minat dan bakat murid. Jika tidak dikeluarkan dari sekolah murid ini akan mempengaruhi dan merugikan murid-murid lain.

Perubahan keputusan akan menjadi perubahan paradigma dilingkungan sekolah. Karena dalam sebuah keputusan banyak hal yang harus dipertimbangkan. Semua keputusan harus berpihak kepada murid, jangan sampai keputusan yang tidak tepat akan menghambat perkembangan murid-murid disekolah. Seperti setiap kesalahan harus dihukum dengan tegas sesuai dengan aturan yang berlaku disekolah. Karena harus ada pembinaan terlebih dahulu kepada murid tersebut. Pelanganggaran yang dilakukan oleh seorang murid pasti ada kebutuhan dasar pada murid tersebut yang tidak dapat terpenuhi. Seperti kebutuhan kasih sayang, pengakuan atas jati diri, pertahan diri  dan lain sebagainya. Keputusan yang bijaksana, tepat, dan benar tentunya akan memerdekakan murid. Sesuai dengan filosopi bapak Ki Hadjar Dewantara.

Dari penjabaran diatas sudah tentu setiap keputusan yang baik, bijaksana dan tepat akan berpengaruh positif terhadap karakter murid baik saat ini maupun masa depan murid. Karena murid diperlakukan bukan seperti narapidana. Harus dihukum dengan hukungan fisik maupun psikis ketika melakukan kesalahan. Murid harus diberikan kasih sayang, dan perhatian dari seorang guru. Karena guru merupakan among bagi seorang murid. Murid harus diberikan banyak kesempatan untuk memperbaiki diri dan untuk mengembangkan diri. oleh semua warga sekolah bahkan oleh oarng tua murid tersebut.

Pada akhir nya saya dapat menyimpulkan bahwa modul ini sangat berkaitan erat dengan modul-modul sebelum nya. dimana modul sebelum nya mengajarkan seorang guru untuk selalu berpihak kepada peserta didik. Banyak konsep materi yang diberikan untuk mengembangkan minat, bakat murid serta materi pelajaran yang membuat murid menjadi merdeka dalam hidupnya, merdeka dalam belajar. Sedangkan materi pada modul ini adalah mengajarkan seorang guru sebagai pemimpin pembelajar untuk membuat keputusan yang tepat, benar dan bijaksana bagi murid disekolah. Guru harus benar benar menganalisa permasalahan yang ada sebelum mengambil keputusan bagi murid. Jika keputusan yang diambil salah maka akan merusak generasi bangsa. Murid adalah generasi bangsa yang harus didik, diajarkan, dan dibimbing sehingga menjadi generasi emas. Inilah merupakan cita-cita para pendiri pendidikan di Indonesia.





PreTest Silent Teacher (Algoritma dan Pemrograman Komputer )

Silahkan klik link dibawah ini untuk Game/ Kuis Kuis Algoritma   dan Pemrograman (Pre Test) Setelah mengisi Post test siswa belajar Algoritm...